Allah SWT Yang Maha Indah.. Selalu saja karunia-karunia indah dicurahkan…
Penugasan berbagi ilmu pengadaan di Kabupaten Raja Amat di bulan April 2017 menjadi media pengantar untuk tiba di wilayah yang sangat diharapkan banyak orang untuk bisa dikunjungi..
Pernah beberapa kali berdoa dengan khusyu’ meminta agar bisa ke Raja Ampat. Tak terhitung berapa kali terbersit dalam hati minta agar Allah SWT berikan kesempatan bisa silaturrahim di kepulauan di Provinsi Papua Barat tersebut..

Dan tiba waktunya, pemberangkatan dari Cengkareng transit Manado menggunakan Batik menjadi moda penjelajah tujuan. Sebelum terbang dan di persinggahan sempat berkali-kali googling cari-cari info tentang Raja Ampat. Salah satunya ketemu di wikipedia yang menceritakan bahwa Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung Pulau Papua. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Kepulauan ini sekarang menjadi tujuan wisatawan yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Empat gugusan pulau yang menjadi anggotanya dinamakan menurut empat pulau terbesarnya, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta.

Penasaran dengan asal muasal nama “Raja Ampat”, rupanya wikipedia bercerita bahwa Asal mula nama Raja Ampat menurut mitos masyarakat setempat berasal dari seorang wanita yang menemukan tujuh telur. Empat butir di antaranya menetas menjadi empat orang pangeran yang berpisah dan masing-masing menjadi raja yang berkuasa di Waigeo, Salawati, Misool Timur dan Misool Barat. Sementara itu, tiga butir telur lainnya menjadi hantu, seorang wanita, dan sebuah batu. Dalam perjalanan sejarah, wilayah Raja Ampat telah lama dihuni oleh masyarakat bangsawan dan menerapkan sistem adat Maluku. Dalam sistem ini, masyarakat sekumpulan
manusia. Tiap desa dipimpin oleh seorang raja. Semenjak berdirinya lima kesultanan muslim di Maluku, Raja Ampat menjadi bagian klaim dari Kesultanan Tidore. Setelah Kesultanan Tidore takluk dari Belanda, Kepulauan Raja Ampat menjadi bagian klaim Hindia Belanda.. (Cerita yang belum selesai sepertinya dari Wikipedia). Cerita itu menjadi pengantar lamunan selama penerbangan..

Penerbangan yang nyaman, dan sukses mengantarkan pendaratan tiba di Bandara Marinda di Distrik Waisai, Kabupaten Raja Ampat, sebagai pemula jejak kaki dari munajat-munajat yang dipanjatkan..

Bandara

Tak sabar rasanya ingin segera membuktikan visualisasi indah yang sering tayang tentang seputar Raja Ampat. Namun tugas mulia menyajikan ilmu pengadaan untuk sahabat yang sedang tholabul ‘ilmi di sana selama 2 hari harus ditunaikan terlebih dahulu. Dari Bandara Marinda, tujuan perjalanan pun langsung ke tempat Majelis ilmu tersebut. Namun suguhan indah di perjalanan sudah langsung terasa. Tak terlalu jauh dari Bandara sudah langsung bertemu persinggahan indah, Pantai Waiwo. Mampir sebentar sebagai previsit. Berhenti beberapa menit, lumayan sudah bisa mengambil beberapa gambar, dan melafadzkan tasbih dan tahmid atas keagungan Mu Rabb.. Saat meninggalkan Waiwo, masih berharap ada kesempatan selama di Raja Ampat untuk ke sini lagi..

Setelah bertugas selama dua hari mengajar selesai, kepulangan pun harus ditunda. Akhir pekan selama dua hari yang tersisa harus dioptimalkan memperbanyak tasbih dan tahmid di tempat-tempat indah lainnya dari Raja Ampat..

Alhamdulillah, beberapa destinasi yang sempat dikunjungi antara lain :

  • Pantai Waiwo

Lagi, ke pantai Waiwo. Kali ini waktu lebih banyak. Jadi bisa lebih banyak menikmati
suguhan alam dari beberapa sudut cantik Waiwo. Pak Jokowi pernah beristirahat dan foto di dermaga dengan latar panorama matahari terbit di Pantai Waiwo tersebut. Waiwo adalah kawasan pantai dan resor yang berpasir putih dengan salah satu penghuni terkenalnya hiu karpet di dasar permukaan laut. Ya Allah, betah betul betul menyaksikan hiruk pikuk makhluk laut cantik yang bisa langsung bisa diamati dari pemukaan Waiwo Dive Resort, menjadi satu-satunya resor di Pantai Waiwo yang menyediakan penginapan dan menawarkan paket untuk snorkeling dan diving.

  • Afu Resort

Masih berlokasi di Waisai dan tak jauh dari Bandara Marinda..
Afu Dive Resort menjadi salah satu tujuan indah untuk dikunjungi..
Tak menginap di sana, tapi dapat fasilitas indhanyam Afu resort ini menawarkan beberapa jenis cottage Uniq dan cantik. Sebagian berlokasi di laut (biasa disebut ‘Afu laut’ , sebagian lagi berada di darat (disebut juga ‘Afu darat’), tepat di pinggir pantainya.

  • Batu Pinsil dan Teluk Kabui
    Jika perjalanan sebelumnya masih melintasi di Waisai, perjalanan lebih seru selanjutnya mulai meninggalkan pulau tersebut. Berangkat pagi dari Pelabuhan Pariwisata Waisai dengan menggunakan kapal yang disewa, setelah kurang lebih 1 jam, persinggahan indah pertama kapal adalah Batu Pinsil dan Teluk Kabui.
    Teluk Kabui terdiri dari gugusan pulau-pulau karang yang tersusun fantastis oleh yang
    Maha Kuasa. Salah satu persinggahannya adalah Batu Pensil. Batu Pensil ini berdiri tegak dengan ketinggian kurang lebih 15 meter. Kapal wisatawan bisa bersandar, karena di sekitar Batu Pensil sudah dibangun dermaga kayu. Wisatawan juga bisa turun ke dermaga ini.Bentuknya Batu Pinsil itu sendiri berupa batu raksasa yang berdiri tegak di tengah lautanTeluk Kabui. Sekilas bentuknya tak mirip dengan pensil, namun para wisatawan sudah terlanjur mengenalnya sebagai Batu Pensil. Sebenarnya Batu Pensil ini sama dengan gugusan pulau karang lain yang banyak ditemukan di Raja Ampat. Namun karena BatuPensil berdiri sendirian di tengah seperti tiang lautan, makanya jadi terlihat spesial.Cuaca yang cerah tak disia-siakan untuk melihat dan mengambil foto Batu Pensil dari jarak yang amat dekat dan sekeliling Teluk Kabui yang seperti labirin gagah. Ingin rasanya menyeburkan diri di jernihnya air laut bertabur ikan cantik, tapi ditunda dulu untuk persinggahan selanjutnya.

  • Telaga Bintang

Tujuan perjalanan indah adalah Telaga Bintang..
Walaupun sesekali perjalanan diwarnai hujan, namun sepanjang perjalanan pula tetap terus menyaksikan indahnya gugusan pulau-pulau dan jernihnya air laut.
Akses ke Telaga Bintang atau kadang disebut dengan nama Laguna Bintang memakan
waktu tempuh dari Waisai sekitar 3 jam menggunakan kapal. Untuk menikmati
pemandangan Telaga Bintang ini, harus mendaki sekitar 15 menit menuju puncak bukit batu karst yang sudah dibuat jalur aman oleh penduduk setempat, namun harus hati-hati karena spot di puncak agak sempit dan batu yang tajam. Sehingga perlu bergiliran untuk menikmati keindahan alam dari puncak demi keselamatan bersama.
Setiba di puncak, maka akan melihat Telaga berbentuk bintang dengan airnya yang
berwarna kehijauan toska dan jernih.

  • Piaynemo
    Berlayar dengan Sang Kapal dilanjutkan menuju ke puncak Piaynemo. Puncak perbukitan Kars ini ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Raja Ampat setempat sebagai Situs Warisan Bentang Alam. Tak heran banyak wisatawan berkunjung di tempat ini. Setelah kapal merapat di dermaga, sambutan ramah penduduk lokal yang berjualan souvenir, makanan dan minuman ringan langsung Kami temukan.

Setelah kuat, perjalanan menaiki anak tangga untuk ke puncak di mulai. Terhitung (kalua tidak salah) jumlah anak tangga kayu dari bawah ke puncak yang dilalui ada 341 anak tangga kayu. Lumayan ngos-ngosan juga.

Tapi sesampainya di puncak langsung disuguhi panorama alam yang eksotik Raja Ampat. Di puncak ternyata sudah banyak wisatawan domestik dan manca negara yang datang lebih dulu. Mereka tampak seperti saling berebut di spot cantik untuk berfoto.
Alhamdulillah kesampaian ikut Pak Jokowi yang sudah pernah swafoto di lokasi tersebut.

  • Pulau Arborek
    Dari kejauhan, Pulau Arborek sudah cantic menggoda. Pantainya terlihat landai dengan
    hamparan pasir putih dan pepohonan kelapa. Melihat airnya yang jernih dan biru, serta ikan yang berameka warna dan jumlah, langsung memastikan diri untuk snorkeling sampai puas. Dengan snorkeling, kita akan melihat terumbu karang dengan berbagai ukuran yang berwarna-warni.

Di daratan Pulau Arborek juga menyajikan pemandangan yang membuat terpana. Satu
pulau ini, tanahnya pasir putih semua. Ada sekitar puluhan orang yang menempati

Pulau Arborek ini. Mereka sehari-hari berprofesi sebagai nelayan dan juga pemandu wisata. Sembari mengitari pulaunya, terlihat rumah-rumah, sekolah dan gereja. Masyarakatnya pun ramah, tak segan untuk membalas sapaan
dan senyuman.

  • Pasir Timbul Pulau Mansuar

Ternyata Raja Ampat juga punya pesona lain yang tak kalah menawan di atas permukaan lautnya. Ada sebuah keunikan di sana, berupa hamparan pasir timbul yang hanya muncul pada waktu-waktu tertentu saja, tepatnya pada laut sedang surut.
Begitu tiba sekitar pukul 16.30, langsung terpukau dengan pemandangan yang ada di
depan mata. Saat kapal berlabuh dengan jangkarnya, langsung terjun ke hamparan Pasir Timbul. Kedalaman laut saat itu tak sampai selutut. Saat kondisi laut sedang surut seperti inilah, hamparan pasir ini akan muncul ke permukaan, meninggalkan daratan putih berpasir halus. Namun ternyata tak lama. Semakin matahari kembali ke peraduannya, air laut pun mulai menenggelamkan daratan.

Tapi sangat bersyukur, 1 jam di pasir timbul sudah bisa merasakan sensasinya, dan tasbih kepada Mu Rabb wajib terucap.

Kembali mengulang Kalimat di awal, Allah SWT Yang Maha Indah..
Selalu saja karunia-karunia indah dicurahkan..
Alam Raja Ampat adalah salah satu keindahan ciptaan Sang Maha Indah..
Semoga diperkenankan kembali hadir dalam Keindahan Raja Ampat..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *